FSKN, FIB UI, dan FISIP UI Menggelar Seminar Budaya “Tri Tangtu Di Buana”
Menggali Falsafah Tri Tangtu
Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, akan mengadakan seminar budaya dengan tema “Tri Tangtu Di Buana” di Kampus FIB UI, Depok, pada hari Kamis (6/10). Seminar ini akan menampilkan pembicara-pembicara terkemuka, antara lain Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari FIB UI yang akan membahas tentang Akar Budaya Tri Tangtu, serta Alfonsus Sutarno, S.Ag., Lic.Th, dari FISIP UI yang akan membawakan topik mengenai Tri Tangtu dan Pikukuh Tilu.
Selain itu, pembicara lainnya adalah Dr. H. Yat Rospia Brata, Drs., M.Si, dan Ilham Purwa F, S.P., M.P dari Universitas Galuh yang akan menyampaikan makalah mengenai “Implementasi Tri Tangtu di Tatar Galuh-Ciamis.” Seminar ini akan diadakan secara hibrida dan dihadiri oleh Ketua Umum FSKN, Dr. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si, serta Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D.
Seminar Budaya Menyentuh Akar Budaya Sunda
Tri Tangtu Di Buana adalah sebuah falsafah budaya Sunda Galuh yang mengatur hubungan antara manusia dengan alam semesta dan sang pencipta, terbagi menjadi tiga kontekstual fungsi: Rama (legislatif), Ratu (eksekutif), dan Resi (yudikatif). Tatar Galuh adalah wilayah di mana Kerajaan Galuh eksis, terletak di antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cisarayu serta Cipamali atau Kali Brebes di sebelah timur. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara pada abad ke VI.
Ketua panitia seminar, Dede Radinal, menjelaskan bahwa Falsafah Tri Tangtu Di Buana diambil dari teks naskah Sunda kuno, seperti Carita Parahyangan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan Swaka Darma. Ketiga teks ini menggambarkan gagasan dan prinsip yang saling terkait.
Seminar ini diadakan dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan memberikan pendidikan kepada generasi muda tentang warisan budaya bangsa yang luhur.

